Song
Pagi
ini cerah. Itu kesan pertama saat aku keluar dari graha kelas tiga. Aku
bersekolah di sebuah Boarding School. Dan secara sudah menjadi senior tertinggi
diantara yang lain. Kebebasan memang sempurna tapi beban sebagai siswa SMA pun
sempurna. Bagaimana tidak, beban try out, tugas, bimbel, FOKUS UN + SNMPTN.
Lengkap !
Tapi tenang, jiwa-jiwa
sepertiku adalah jiwa-jiwa enjoy man.
Bagiku beban itu bukan harus diratapi tapi dijalani. Bukan hidup kalau bukan
tanpa tantangan. Pagi itu segera aku langkahkan
kaki dan tubuh ini menuju tempat sakral yang menjadi sejarah setiap
angkatan di sekolahku. Ruang Makan.
“ Pagi teman-teman dan
adik adik semua. Hari ini cerah bukan. Alangkah baiknya kita bersyukur pada
Tuhan pencipta alam semesta.” celoteh ku begitu memasuki ruang makan.
“
Apa sih Lif, pagi-pagi udah kaya burung beo.” ucap salah seorang siswi dan dia
adalah Astri.
“
Kita harus bersyukur Tri, bisa menikmati indahnya pagi ditambah berkah sarapan
yang disiapkan ibu cs kita tercinta ini.” jawabku dengan semangat.
“
Iya deh Lif, ikut aja.” celetuk Veny kalem.
“
Hai, ada Veny. Pagi Venyyyy.” sapaku pada siswi kalem yang berjilbab ini.
“
Liiff.. Liif.. ngoceh aja. Mending kamu duduk disini. Liat adek bintara itu
udah berdiri. Sini cepeett…” seru Deni tak sabaran dengan ocehanku sedari tadi.
Haha..
itulah aku. Dengan celotehan yang tak kunjung habis. Rasanya setiap yang aku
lihat bias menjadi bahan celoteh yang asik. Itulah aku Alif Kharisma. Nama yang
bagus bukan. Mungkin saat my mama sedang mengandung anaknya yang ganteng ini
mengidamkan anak laki-laki dengan kharisma tinggi. Dan lahirlah aku yang
berkharisma ini. Ups…apa iya?
***
“
Woi Lif… sini.”
Celingukan
aku mencari arah yang empunya suara dan setelah aku menoleh ke belakang. Dia
adalah Zaldi.
“
Gimana project kita ?” tanyanya padaku.
“
Tenang bro, aku sudah buatkan hipotesisnya. Selanjutnya kita harus membuat
tabel analisis data dan memulai pengumpulan data.”
“
Jadi intinya kita harus IB ?” tanya Zaldi kemudian.
“
Wht not bro.” jawabku dengan senyum gantengku ini.
“
Sip. Sepulang ngampus siang, kita minta surat IB.” senyum Zaldi pun tak kalah
lebarnya saat itu. Tapi tetap ganteng aku jelasnya. Hehe…
Ya.
Aku dan Zaldi sedang menjalani project Karya Ilmiah kami yang kami rintis
berdua dan semoga segera bisa membuat kami terbang menuju Jakarta dalam ajang
lomba Karya Ilmiah Internasional yang kebetulan diadakan di negeri kita
tercinta ini, Indonesia.
***
Malam
ini adalah jadwal belajar mandiri di kampus, sudah pasti kami sebagai siswa
kelas tiga SMA yang dibebani beban seabreg
sangat memanfaatkan moment-moment ini untuk berkumpul dengan teman-teman
lainnya.
“
Sumpah, baru kerasa gimana bebannya kelas tiga ya.” ujar Andria sambil duduk
disampingku malam itu.
“
Hidup itu perjuangan An, setelah masa sulit ini kita bisa menikmati hasilnya
dengan manis kalau kita serius.” jawabku sok bijak.
“
Alah, kamu aja santai terus Lif.” jawab Andria.
“
Santai tu harus An, tapi gak selamanya. Nikmati aja, jangan dibawa susah. Liat
tu muka kamu kaya baju kusut minta disetrika.” ucapku sambil tertawa.
“
Apa muka Andria kaya setrikaan.” teriak Eza yang tiba-tiba saja nongol diantara kami. Dan spontan saja
teman-teman kami yang rata-rata sedang berkumpul di depan kelas masing-masing
tertawa terbahak-bahak.
“
Heh, Za. Toa tau toa. Pake toa Pak Krik aja sekalian.” teriak Andria dengan
raut wajah kesal. Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Dan tak disangka-sangka
saat aku sedang asik tertawa, tiba-tiba ada seseorang yang membuat mulutku
terbuka bukan karena tertawa, tetapi terpesona dengan sosok yang lewat
dihadapanku.
“Malam
kak.” sapanya dengan menunduk dan melakukan sikat hormat. Kepalaku berputar
sepanjang ia berjalan dihadapan ku. Rasanya dia memiliki magnet kuat untuk
menarik semua pusat panca indra ku untuk mengarah padanya.
“
Woi Lif, liat apa sih. Sampai segitunya.”
Aku
tetap terdiam tak menghiraukan suara siapapun itu yang menyahut barusan.
“
Aliiiiiffff…”
Spontan
aku terkaget.
“
Diteriakin satu angkatan baru dengar. Liiiff Liiif.” teriak Bagus kepadaku. Dia adalah salah satu siswa
IPA lima yang heran dengan tingkahku.
“
Eh..mmm gak kok gak. Lagi kepikiran setrikaan aku yang numpuk di graha aja tadi.
Tadi kita ngomongin tentang mukanya Andria yang kaya setrikaan kusut kan?”
jawabku sambil nyengir menyimpan malu.
“
Alah, alibi aja tuuuh.” teriak Zunia
dari ujung sudut kelas IPA dua.
“
Alibi. Alif berprestasi.” pleset ku pada Zunia.
Spontan
mereka tertawa kembali. Entahlah.. aku tak terlalu memperdulikan itu tertawa
gembira atau aneh dengan plesetan ku atau apalah itu. Yang jelas aku sempat
membaca nama yang tertulis di baju osis sosok orang yang menarik magnet panca
indraku tadi.” Nazahra Revinsia.”
***
Pemilik
nama itu muncul lagi.
Ya
saat itu aku sedang di kantin menyantap sepiring nasi goreng Bu Sari yang
lezatnya bukan main. Sosok itu sedang kembali dengan sikap menunduk menyantap gorengan yang menjadi jatah snack
pagi itu. Dia berkulit putih, tubuhnya tidak terlalu tinggi tetapi tetap enak
dipandang, tidak mengenakan jilbab, dan mata sipitnya yang mebuat ku semakin…
Jatuh cinta.
“
Lif, tau gak yang lagi makan snack itu?” tanya Zaldi yang saat itu ngantin
bersamaku.
“
Yang mana?” aku bertanya kembali kepadanya.
“
Itu yang berkacamata.” jawab Zaldi sambil menunjuk salah satu siswi berjilbab
diantara siswi-siswi yang sedang menyantap snack tersebut.
“
Ow yang itu, kenapa memangnya?”
“
Dia itu pacarku.” jawab Zaldi sambil cengengesan.
Spontan
aku tersedak. Apa! Zaldi sobat terdekat
ku sedari kelas satu SMA tidak pernah menceritakan sedikit pun kepadaku hal-hal
yang berbau cinta. Dan dengan tiba-tiba saja bicara bahwa dia telah memiliki
pacar. Sungguh terlalu seperti ucapan nya raja dangdut Indonesia, Rhoma Irama.
“
Ah parah nih Zal, jadi aku kamu anggap apa sampai gak pernah cerita tentang
itu?” ucapku dengan nada ngambek. Dan
dia tertawa.
“
Santai bro, tau gak kamu aku baru jadian sama dia kapan, baru tadi malam. Jadi
kamu orang pertama yang aku beri tau.”
Aku
pun menjadi lebih kaget lagi.
“
Tadi malam???”
“
Iya tadi malam.” Zaldi cengengesan.
“
Pantas aja kamu semalam gak keliatan, ada misi rupanya.”
Zaldi
pun kembali tertawa.
Dia
tak tau, sungguh aku menyimpan rasa terimakasih yang besar didalam hati untuknya. Bagaimana tidak,
pacar Zaldi yang baru saja ia tunjukkan kepada ku adalah teman dekat Nazahra
Revinsia. Bagaimana aku bisa mengetahuinya. Haha. Itu karena aku selalu
memperhatikan sosok itu akhir-akhir ini. Aku tau saat dia apel pagi, menyantap
snack, sholat di masjid, makan di ruang makan, sampai apel malam. Dan itu
selalu bersama siswi berkacamata yang merupakan pacar baru Zaldi tadi. Ini dia
yang namanya jalan Tuhan. Aku harus bisa menyatakan ini semua kepada sosok itu.
Nazahra Revinsia.
***
“
Buat apaan Lif ?” tanya Zaldi saat memasuki kamar besar 4 yang menjadi istana
kami berlima. Bersama Irzan, Imam dan Haris.
“
Apaan nih mainan pesawat, lagi kangen masa kecil Lif ?” ejek Irzan.
“
Mau tau aja kalian nih.” jawabku.
“
Kok ada tulisan “Happy Birthday” nya banyak banget, disetiap kertas lagi, buat
siapa sih?” tanya Haris ikut penasaran.
“
Nazahra Revinsia.”
“
Hei Zal, aduuhh apa sih.” teriakku kesal pada Zaldi saat ia membuat salah satu
pesawat kertas yang kubuat.
“
Ini kan temannya Azi pacar aku?” tanya Zaldi heran.
“
Iya maaf ya Zal, aku udah kompromi sama Azi kemarin untuk menyampaikan
pesawat-pesawat kertas ini ke Nazahra sore ini, dia sedang ulang tahun.”
jelasku pada mereka.
“
Ooo.. Alif Kharisma jatuh cinta sama Nazahra Revinsia saudara-saudara,” teriak
Irzan seperti seorang komentator sepak bola yang sedang siaran.
“
Parah Lif, gak cerita lagi dengan kami-kami ya.” ucap Zaldi kemudian.
“ Maaf ya kawan, tapi doakan saja seorang Alif
Kharisma yang ganteng ini berhasil sore ini. Oke aku berangkat dulu.” jawabku
sambil berdiri dan berjalan keluar kamar besar 4 itu membawa banyak pesawat
kertas karya ku sendiri untuk sosok yang memiliki magnet untuk menarik panca
indraku itu. Nazahra Revinsia.
***
“
Lif.” panggil Zaldi padaku malam itu saat kami sama-sama hendak tidur.
“
Hem.” gumamku padanya,
“
Mencintai itu memang indah dan angkah lebih indah saat cinta itu berbalas cinta
pula.”
Aku
heran dengan kalimat Zaldi barusan. Biasanya yang puitis atau sok bijak itu kan
aku, kenapa Zaldi mendadak bijak begini.
“
Maksudnya?” tanyaku.
“
Saat itu tidak berbalik, tetaplah pada jalur hidup kita ya Lif. Rencana Tuhan
lebih indah dari takdirnya yang sempat membuat kita pernah jatuh kedalam sosok
yang sebenarnya Ia rencanakan bukan untuk kita.”
Aku
lebih tidak mengerti lagi apa maksud perkataan Zaldi yang ini.
“
Ah sudahlah. Mari kita tidur, bulan udah tidur duluan tu diatas langit.”
Dan
sunyinya malam di sekolah ku ini pun tidak bisa menjawab heranku atas perkataan
Zaldi malam itu.
***
“
Mana Lif, tu si Azi udah nunggu didepan.”
Zaldi
siang itu malaikat untukku rupanya. Dia bersedia memberikan flashdisk ku kepada
Azi untuk Nazahra Revinsia. Ya, malam itu saat Zaldi mengucapkan
kalimat-kalimat yang membuatku heran hingga sekarang, aku baru saja selesai membuat
folder didalam flashdisk itu.
Untuk
siapa?
Jawabannya
sudah pasti untuk sosok itu. Didalam folder yang berjudulkan “ Song for NZ ”
itu berisi sebuah surat yang akan menuntunnya untuk membuka file lainnya. Aku
rela bergadang untuk membuat folder itu. Dimana isinya adalah selain surat juga
sebuah lagu dan film yang berjudul “ Secret ” . Kenapa aku memilih film itu.
Tokoh utama film itu wajahnya mirip sekali dengan sosoknya. Didalam surat itu
aku memintanya untuk membalasnya.
***
“
Azi gimana katanya?” tanya ku tak sabaran pada pacar Zaldi ini. Bagaimana
tidak, sedari tadi ia terlihat bingung menjawab pertanyaan ku yang tidak berubah.
Aku hanya ingin tau apa balasan Nazahra akan folder didalam flashdisk yang ku
berikan lewat Azi kepadanya.
“
Oke kami jawab, sebelumnya maaf ya kak.” akhirnya Azi berbicara juga setelah
sekian menit dia hanya bisa tersenyum bingung dan seperti tidak enak.
“
Kata nya Nazahra……”
Lama
ia tersendat dikalimat itu dan itu sukses pula membuat nafasku ikut tersendat
menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Azi.
“
Dia gak bisa balas folder dari kakak dan dia juga gak ngerti apa maksud lagu
itu kak.”
DEG…
Kalimat
itu cukup membua nafasku bukan tersendat lagi tapi berhenti.
“
Nazahra juga bilang sebaiknya kakak menganggapnya sama seperti adek-adek siswi
lainnya.” tambah Azi lagi kepadaku.
Dari
sudut mata ku aku bisa melihat Zaldi tersenyum penuh arti sambil menundukkan
kepala. Zaldi pun juga menepuk-nepuk punggungku. Kini aku tau apa maksud dari
kalimatmu pada ku malam itu kawan.
Terngiang
kembali kalimat Zaldi…
“ Saat itu tidak berbalik, tetaplah
pada jalur hidup kita ya Lif. Rencana Tuhan lebih indah dari takdirnya yang
sempat membuat kita pernah jatuh kedalam sosok yang sebenarnya Ia rencanakan
bukan untuk kita.”
“
Dan folder “ Song for NZ ” itulah perantara jawaban atas kalimatmu.Terima kasih
kawan.”
Batinku berkata demikian…
***



0 comments:
Post a Comment